*Sebuah catatan perenungan

Hening malam di awal bulan Ramadhan yang agung, semakin syahdu ditingkahi rintik hujan bulan Juni. Sebuah ketenangan yang luar biasa yang dianugerahkan oleh DIA Tuhan seru sekalian alam. Tidak ada kata yang pantas untuk melukiskan betapa DIA begitu romantis dengan memberikan bulan Ramadhan pada umat manusia.  Bulan yang setiap detiknya sarat dengan kebaikan, setiap kebaikan diganjar pahala berlipat ganda. Sungguh jadi pertanyaan adakah masa yang paling indah daripada Ramadhan?

Bukan hanya kedekatan dengan DIA semata, namun Ramadhan juga menjadi masa dimana seisi alam jagad raya bisa menjadi begitu dekat, begitu hangat, begitu romantis. Ketika yang terbiasa makan enak harus merasakan bagaimana laparnya mereka yang tak beruntung. Kita yang terbiasa mengikuti nafsu tentu menjadi paham bagaimana rasanya menahan lapar hingga penghujung hari. Bagaimana rasanya memendam amarah dalam ketidak berdayaan di muka yang lebih berkuasa, hingga dijanjikan menjadi fitri setelahnya.

Ramadhan adalah madrasah untuk menempa kesalehan sosial. Bagaimana hubungan dengan sesama manusia, menjadi sama penting dengan Allah. Kesalehan yang mengutamakan kepentingan orang lain, tetapi berdampak positif juga bagi dirinya sendiri. Karena kenyataannya, walaupun banyak perintah untuk beribadah dalam agama ditujukan kepada individu tetapi harus berdampak dalam kehidupan sosial yang nyata.

Akhirnya diri diajak untuk berpikir, sudah sampai mana tanggungjawab sosial kita, perhatian kita, atensi kita, empati kita, simpati kita kepada masyarakat. Terutama kepada mereka yang telah mempercayakan amanatnya kepada kami. Diri ini kembali diingatkan bahwa diri hanyalah pelayan, yang wajib melayani masyarakat dalam kondisi apapun.

Diri ini mengingat bagaimana petuah para guru bijak di kampung halaman, bahwa seseorang yang diberi amanat oleh kaumnya kelak akan dimintai pertanggungjawaban di yaumil akhir nanti. Boleh jadi dia bisa menipu kaumnya dan lolos dari hukuman di dunia. Namun ia tidak akan mampu meloloskan diri dari tuntutan Allah di akhirat kelak. Karena yang diberikan amanat sejatinya bukanlah yang dilayani melainkan pelayan itu sendiri. Dia harus mampu menempatkan diri sebagai pelayan masyarakat atau komunitas yang dipimpinnya. Bahkan Rosulullah pernah mengingatkan tentang tanggung jawab seorang pemimpin adalah melayani, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Naim. “Pemimpin adalah Pengabdi (pelayan) mereka”.

Sungguh tubuh ini bergetar mengingat tanggung jawab terhadap masyarakat. Teringat wajah-wajah polos mereka yang memberikan kepercayaannya, dengan harapan kehidupan yang lebih baik.

Di bulan yang suci ini, di Ramadhan yang penuh keberkahan, diri ini kembali mengikrarkan sumpah bahwa Aku Hanyalah Seorang Pelayan dari masyarakat, bangsa, negara dan agamaku. Namun diri ini sadar bahwa manusia adalah tempatnya khilaf, kiranya masih membutuhkan saudara-saudaranya untuk mengingatkan. Agar tetap sejalan dengan sumpah seiring dengan tekad demi melayani semuanya.

SADAR SEBAGAI SANG PELAYAN,

CACI MAKI PUN BAGAI PUJIAN,

PERHATIAN RAKYAT SEBAGAI MAJIKAN,

KU TERIMA PENUH KEIKHLASAN ……

-Sang Pelayan-

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>