Kondisi Diorama Museum Kayu Sampit, Dok. CNN

Museum Kayu Sampit Sepi Peminat, Pemerintah Daerah Perlu Dekat Dengan Genarasi Milenial

eRHa45—Situasi sepi peminat dan pengunjung, membuat perkembangan dunia museum Indonesia agar dikenal masyarakat masih jauh diharapkan. Permasalahan tersebut rupanya bukan tanpa alasan, melainkan sebagian orang mengangap museum itu adalah suatu tempat yang membosankan.

Kendala itu dialami oleh Museum Kayu Sampit yang dinilai ornamen interiornya kurang menarik hati masyarakat. Sehingga pihak Pemprov Kalimantan Tengah dan Kabupaten Kotawaringin Timur didesak segera memberikan solusi untuk menangani sepinya museum di wilayah tersebut.

“Museum tersebut memang identik dengan barang antik dan kuno, tapi jangan juga konsepnya kuno karena generasi muda seperti kami jadi malas berkunjung” ungkap Noraida, salah satu warga Sampit, Antara, Senin (15/10/2018).

Noraida mengatakan bahkan sampai saat ini tidak sedikit masyarakat membayangkan bahwa museum itu terlalu gelap dan justru menimbulkan kesan angker. Sehingga ia menyarankan pengelola Museum Kayu Sampit perlu banyak melakukan perubahan secara konsep tampilan dan gencar melakukan promosi.

Di saat generasi Milenial begitu dekat dengan kemajuan teknologi digital, setidaknya pengelola bisa mengkolaborasikan pendekatan digital untuk bisa dekat dengan kaum muda kini. Caranya adalah, lanjutnya, dengan ikut memanfaatkan teknologi nformasi untuk mendapatkan Engagement.

Tak hanya itu sentuhan pemerintah daerah juga tak perlu ragu untuk turut mempromosikan museum sebagai pondasi asal-usulnya. Kegiatan promosi yang dibungkus dengan kegiatan yang dekat dengan generasi milenial merupakan langkah yang efektif agar lebih mudah diterima.

“Kalau terlalu formal, saya yakin generasi muda kurang tertarik. Manfaatkan media sosial dan masuk ke komunitas-komunitas, serta dikolaborasikan dengan kegiatan-kegiatan anak muda, jadi anak muda seperti kami makin familiar dengan Museum Kayu Sampit dan makin rajin berkunjung,” ucapnya.

Menyikapi hal ini Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kotawaringin Timur, Fajrurrahman nampak membenarkan dengan apa yang diucapkan Noraida. Walaupun demikian pemerintah setempat sebenarnya tak tinggal diam, Fajrurrahman mengaku segala upaya tengah diupayakan untuk mengenalkan museum di mata masyarakat.

“Pemerintah daerah berupaya menjadikan museum sebagai tempat belajar, juga kegiatan positif lainnya, seperti ada kegiatan implementasi budaya, melukis, hiburan, dan lainnya,” kata Fajrur.

Secara biografi Museum Sampit didirikan pada 6 Oktober 2004 yang bertempat di jalan S Parman, dengan kategori museum “Umum”. Isi dari museum ini adalah berkaitan dengan segala jenis dan alat produksi kayu di masa kejayaan sektor perkayuan di Kalimantan Tengah sebelum di periode tahun 2000.

Museum Kayu Sampit juga menceritakan bagaimana pengolahan kayu di zaman dahulu, seperti peralatan sehari-hari masyarakat setempat, hingga tempat dokumentasi pengawetan tulang ikan paus. Nama Museum Kayu Sampit dipilih untuk mengenang sejarah kayu di wilayah Kalimantan Tengah. Dengan ini pemerintah berharap museum bisa menyampaikan pada generasi muda mengenai sejarah lokal di sektor perkayuan, walaupun kini situasinya justru tak sesuai yang diinginkan.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>