Rahmat Hamka Nasuition

Lahir Sebagai Pelayan Rakyat, Hamka Berkomitmen Selalu Hadirkan Terobosan Baru

eRH45—Sadar dan paham akan kondisi masyarakat saat ini, pilihan menjadi anggora DPR sejak tahun 2015 melalui Pergantian Antar Waktu (PAW) membuat Rahmat Nasution Hamka ikhlas memberikan waktunya menjadi pelayan rakyat.

Pria yang dikenal selalu memakai peci merah, senantiasa akrab dan peka mendengar apa yang dibutuhkan masyarakat. Terlebih dengan menjadi pelayan rakyat di lingkup daerah, mempertajam intuisi nalarnya dalam memberikan pelayanan terbaik.

“Jadi tagline saya ini ‘Sang Pelayan, Menembus Batas Harapan.’ Memang sebagai wakil rakyat sudah seharusnya jadi pelayan rakyat. Kalau kalau ada pelayan rakyat yang lebih baik dari saya maka saya siap tidak dipilih. Jadi menjadi tuan lagi bukan pelayan, karena rakyat itu bagi saya adalah tuan,” tegas Hamka lewat laporan Rmol, Kamis (14/2/2019).

Dari pengalamannya yang begitu dekat dengan rakyat ia menegaskan,  bahwa seharusnya apa yang saat ini disebut sebagai Dewan Perwakilan Rakyat, perlu diganti akronimnya menjadi Dewan Pelayan Rakyat. Kelakar tersebut sepintas betul, pasalnya rakyat tak perlu diwakilkan, namun butuh dilayani.

Disisi lain Hamka juga mengungkapkan, dari apa yang dijelaskan sebelumnya dimaksudkan untuk para anggota dewan sadar, sejatinya meraka itu ialah pelayan rakyat dan bukan sebaliknya.

Menurutnya, selama menjadi anggota DPR, ia tercatat sudah tiga kali pindah komisi. Pertama, Hamka ditempatkan di Komisi II, Kemudian Pindah di Komisi IV, dan saat ini berada di Komisi V. Namun hal itu tak membuatnya putus ide dan inovasi.

Selama memegang amanah pada pergatian lintas komisi itu, ia percaya akan mampu menghadirkan sebuah terobosan baru demi kemajuan masyarakat saat ini.

“Jadi saya selalu mengambil terobosan buat daerah karena setiap daerah tidak bisa disamaratakan, masalahnya ada kebiasaan dan kondisi yang berbeda,” terangnya.

Misalnya saat di Komisi IV yang membidangi pertanian, menurut dia, tidak bisa area sawah di Kalteng dikondisikan yang sama seperti di Jawa.

“Akhirnya saya waktu itu minta 20 eskavator untuk sawah. Karena sawah di sana (Kalteng) masih banyak tunggulnya jadi sangat berbeda dengan di Jawa,” pungkasnya.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>