All about Budaya article

Foto Luar Bias Kondisi Jalan Layang Pangkalanbun, Dok. BajarmasinPost

PUPR Kalteng: November 2019, Jalan Layang Pangkalanbun-Kolam Mulai Berfungsi

eRHa45—Jalan Pangkalanbun-Kotawaringin Lama yang kerap terendam air, membuat pemerintah kota berupaya untuk membangun jalan layang di lokasi tersebut. Langkah ini dilakukan agar aktifitas lalu lintas Pangkalanbun yang menuju ke Sukamara dan Lamandau bisa berjalanjan lancar.

Melihat gangguan jalan terendam ini, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kalteng, H Shalahudin melalui Ketua Tim Posko PUPR, H Rizky R Bajuri pun angkat bicara. Ia mengatakan, setelah giat lebaran tepatnya H+5 Shalahudin akan menutup jalur Pangkalanbun-Kolam. Ini dikarenakan untuk melanjutkan proyek pembangunan jalan layang tersebut.

Ia meyakinkan bahwa saat ini proses pembangunan sudah mencapai 75 persen, dan diprediksi bakal rampung November 2019. Lebih jauh Rizki menegaskan pengerjaan pile slab A di Km 30-31, pile slab B 31-32 dan pile slab C di Km 34-35.

“Saat ini petugas kami terus melakukan pembangunan jalan layang tersebut, secara optimal sehingga kendaraan memang belum boleh lewat,” ujarnya, melalui Banjarmasin Post, (10/06/2019).

Sempat, tegas Rizki, sudah ada kesepakatan beberapa pihak setelah rapat bersama antara Dinas PUPR Kalteng dengan Pemkab Kotawaringin Barat (Kobar), bertempat ruang Wakil Bupati Kobar Ahmadi Riansyah.

“Kesepakatan agar jalur alternatif tersebut, selama H-5 dan H+5 lebarandibuka untuk umum, hari ini sudah ditutup kembali,” ujarnya.

Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro. - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Pemindahan Ibu Kota Baru Dipercaya Mampu Tumbuhkan Perekonomian Kalteng

eRHa45—Rencana pemindahan ibu kota baru yang akan dilakukan dalam jangka panjang, pemerintah pusat berharap hal tersebut mampu mendorong perekonomian yang sebelumnya masih sangat bergantung dengan pengeloaan sumber daya alam.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brojonegoro menjelaskan, untuk wilayah Klimantan Tengah (Kalteng) perkembangan perekonomiannya masih syarat terpengaruh oleh rendahnya komoditas serta ketergantungan dari sektor sumber daya di wilayahnya.

Untuk itu, tegas Bambang, ia ingin membangun ekonomi Kalteng dengan menjadikan Kalteng sebagai kandidat ibu kota baru yang, seperti yang diberikatakan sampai saat ini.

“Kita ingin upaya membangkitkan ekonomi Kalimantan sebagai salah satu kandidat kuat ibukota baru,” kata Bambang, di Kantor Staf Presiden, Senin (13/5/2019).

Walaupun sampai saat ini, pemerintah pusat masih belum mengumumkan secara resmi kapan dan di mana wilayah pasti untuk segera dijadikan sebagai ibu kota baru.

Namun berdasrkan dari tinjauan langsung yang dilakukan Presiden Joko Widodo, wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur dianggap sebagai wilayah potensial untuk ibu kota baru tersebut.

Bambang menambahkan, upaya yang dilakukan Presiden Jokowi ialah langkah strategis pemerataan ekonomi yang selama ini masih sangat terpusat di Pulau Jawa—khususnya Jakarta, yang hingga sampai saat ini telah menunjukan tanda-tanda penurunan permukaan tanah.

Dengan ibu kota baru dapat memunciptakan titik-titik baru perekonomian, terutama wilayah yang belum sama sekali tersentuh sekalipun. “Pasti akan ada dampak pertumbuhan ekonomi di wilayah sekitar ibukota baru dan terutama untuk wilayah itu sendiri.”

Ilustarso Komoditi Kopi, Dok. Coffindo

Komoditi Kopi dan Coklat jadi Primadona, Kalteng Siapkan Lahan Satu Hektare

eRHa45–Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah melalui Dinas Perkebunan tahun 2019 ini, mulai fokus dalam pengembangan penanaman tanaman kopi dan cokelat, karena dinilai sangat potensial untuk dikembangkan di Kalteng.

Ditargetkan ada seluas 200 hektare lahan perkebunan untuk pengembangan tanaman tersebut, sesuai dengan yang direncanakan oleh Pemprov Kalteng, karena penikmat kopi dan coklat di Bumi Tambun Bungai cukup banyak sehingga dikembangkanlah penanaman dua jenis tanaman tersebut.

Mengutip laporan Tribun program tersebut disambut baik petani di Kalteng,karena dinilai, pengembangan dua jenis tanaman tersebut memang cukup potensial, namun para petani perlu belajar pengetahuan tentang penanamannya.”Siap saja tapi tentu perlu belajar untuk pengembanganya,” ujar Darmawan, salah satu petani Kelurahan Kalampangan di Palangkaraya, Senin (8/4/2019).

Semetara itu, Kepala Dinas Perkebunan Kalteng Rawing Rambang menjelaskan, tahun 2019 ini memang ada pengembangan lahan perkebunan untuk tanaman coklat dan kopi, seluas 200 hektare yang masing-masing petani akan menggarap seluas satu hektare.

“Program ini sudah cukup bagus, ini adalah program Gubernur Kalteng, yang memberikan bantuan kepada masyarakat terkait pengembangan lahan untuk penanaman coklat dan kopi kepada petani yang masing-masing diberikan lahan untuk pengembangan pertaniab seluas satu hektare,” ujarnya.

Dikatakan dia, sementara ini pengembangan lahan untuk penanaman coklat dan kopi tersebut ada di Kabupateb Kapuas, Seruyan,

Barito Utara dan Gunungmas yang nantinya juga akan dikembangkan di daerah lainnya yang ada di Kalimantan Tengah.” Untuk coklat penanaman pohon saat ini ada 2.100 sedangkan kopi 1.200,” ujarnya.

Masyarakat yang untuk bercocok tanam juga dibuka oleh Dinas Kehutanan Kalimantan Tengah dengan memberikan kesempatan kepada warga untuk bercocok tanam, melalui program hutan kemasyarakatan yang membuka peluang manfaatkan hutan untuk kebutuhan masyarakat.

Kepala Dinas Kehutanan Kalimantan Tengah, Sri Siswanto, mengatakan, pihaknya memang ada program hutan kemasyarakatan yang memberikan peluang kepada masyarakat untuk memanfaatkan lahan hutan untuk ditanami tanaman termasuk kopi dan coklat yang jadi program pemerintah.”Ya, hutan boleh dimanfaatkan untuk itu,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi B bidang perkebunan dan kehutanan DPRD Kalteng, HM Asera, mengatakan, sangat mendukung program tersebut,sehingga kedepannya pengembangan lahan perkebunan tidak semata hanya dilakukan untuk pohon kelapa sawit saja tetapu juga tanaman lainnya yang dianggap cukup potenasial untuk di kembangkan.

“Tentu akan lebih baik untuk pengembangan tanaman tersebut, dan bagi petani sangat menjanjikan, karena saat ini memang cukup banyak penggemar minuman coklat atau kopi, dan kedepannya tentu jenis tanaman itu akan semakin diperluas penanamannya di lahan Kalimantan Tengah,” ujarnya

Kushedya Hari Yudo (kanan) saat memperkuat Kalteng Putra di musim 2018 , Dok: Kompas

Gubernur Kalteng Yakin Tim Kalteng Putra Juara di Piala Presiden 2019

eRHa45—Hasil kemenangan tim Kalteng Putra kontra PSM Makasar, membuat Gubernur Provinsi Kalimantan Tengah Sugianto Sabran merasa yakin bahwa tim kebanggannya bakal jadi juara di Liga Presiden 2019.

Hasil laga yang berujung 1-0 kemenangan untuk Kalteng Putra sebuah tanda awal, dari kemampuan tim asal Klateng tersebut dapat unggul dan bersaing dengan tim hebat papan atas Liga 1. Fakta inilah menjadi dasar keyakinan  Sabran.

Sabran menjelaskan titik kemenang yang diraih ini merupakan satu langkah positif, terlebih upaya baik untuk persiapan di laga mendatang. “Ini merupakan langkah awal yang baik, khususnya dalam persiapan untuk menghadapi liga I, kami yakin Kalteng Putra bisa unggul dari kesebelasan lainnya,”

Untuk memperkuat di lini depan, tim Klateng Putra masih membutuhkan dua Playmaker tambahan. Kemudian untuk di lini tengah Kalteng Putra membutuhkan seorang tambahan lagi untuk mengatur ritme permainan.

“Target Kalteng Putera meraih kemenangan mutlak pada Liga I, bukan untuk menjadi pecundang, dalam arti Kalteng Putera harus menjadi juara umum,” ujarnya.

Ia berharap dari segi menjemen, Kalteng Putra bisa terus berkembang dan mempertahankan prestasi yang telah dicapai. Tentu saja, tegasnya, semua ini tak terlepas dari dukungan masyarakat dan Pemprov  Kalteng yang terus berdoa agar tim kebanggaannya bisa berprestasi di kancah nasional.

Di sisi lain untuk menunjang fasilitas pemain, Kepala Dinas PUPR Kalteng Salahudin menjelaskan. Pihaknya berkomitmen memperbaiki Stadion Tuah Pahoe untuk persiapan laga Liga 1 yang akan dimulai pertengah tahun 2019.

“Berbagai sarana dan prasarana kami perbaiki untuk pembenahan lapangan tersebut,” tutupnya.

 

 

 

 

 

 

Ilustrasi Budaya

Sanggar Tari Lokal Siap Poles Generasi Muda Untuk Sadar Budaya

eRHa45—Ingin mempertahankan kebudayaan tradisional masyarakat Dayak, generasi muda diharapkan bisa menyalurkan bakat dan kreativitas mereka. Yang diwujudkan dalam bentuk wadah sanggar seni dan budaya Dayak, Seperti sanggar tari Tingang Hakampeleng Renteng (THR).

Masih terbilang baru dalam mengembangkan dunia seni tari tradisional, Sanggar Seni THR perlu menjadi perhatian lantaran potensi bakat muda yang mampu bersaing untuk melestarikan budaya adat dayak.

Untuk itu, Pembina Sanggar Seni THR, Ida Ayunia menjelaskan. Dalam dunia pagelaran seni kebudayaan, THR telah banyak turut serta. Salah satunya ialah “Maneser Tatu Hiang” dengan mengikuti lomba tari etnik, busana etnik anak, lomba menyipet, bahkan lomba karungut dan lawang sakepeng.

“Alhamdullilah, walaupun Sanggar kami bisa dibilang Sanggar pendatang baru, namun dalam beberapa event, kami berhasil menjadi juara. Salah satunya pada saat acara ‘Maneser Panatau Tatu Hiang’ Tahun 2018 kemarin, kami berhasil menjadi juara 1 di dua kategori, yaitu lomba manyipet dan lomba Karungut. Ini merupakan suatu kebanggan untuk kami.” Terang Ida, seperti yang dilaporkan BeritaSampit, pada (20/5).

Ia melanjutkan, dengan berdirinya sanggar seni THR adalah untuk menciptakan aura positif serta menyalurkan bakat dari generasi muda saat ini.

“yang pasti dengan adanya wadah untuk menyalurkan bakat, para generasi muda bisa terhindar dari hal-hal negatif seperti bahaya Narkoba, bahkan para generasi muda juga bisa melestarikan kebudayaan tradisional suku Dayak di Kalteng, agar tidak tidak tergerus oleh waktu dan era yang semakin canggih ini.” lanjutnya.

Tidak hanya itu, Ida pun berharap pemerintah bisa memberikan support lebih untuk kesenian tradisional masyarakat Dayak.

“Pemerintah juga harus membina kesenian dan budaya dayak Kalteng sehingga bisa di kenal di nasional dan internasional. Dan juga pemerintah juga harus sering mengadakan perlombaan kesenian daerah,” tegasnya.WES

Walhi Kecam Tambang Batubara, Yang Memarjinalkan Perempuan dan Lingkungan; Foto Indowarta.com

Sambut Hari Perempuan, Walhi Kecam Industri Ekstraktif Tambang

eRHa45—Seiring kondisi lingkungan hidup yang kian rusak tak terkendali, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) turut mendukung perlawanan untuk perempuan terhadap industri tambang.

Industri ekstraktif tambang seperti pertambangan batu bara dan PLTU batubara, Walhi menyuarakan bisnis industri tersebut telah merampas ruang dan kedaulatan perempuan. Terutama di wilayah Bengkulu, Jambi Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, bahkan Jawa Barat.

“Industri ini juga merampas ruang dan kedaulatan perempuan, antara lain di Bengkulu, Jambi, Sumatera Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Jawa Barat,” kata Kepala Departemen Kampanye dan Perluasan Jaringan Eksekutif Nasional WALHI, Khalisah Khalid dalam peringatan Hari Perempuan Internasional, Antara (8/3).

Menurut Khalid, berbagai pergerakan aksi dan aktivitas perempuan dalam melawan industri ekstraktif batubara diklaim telah terjadi di berbagai wilayah yang saat ini dekat dari ancaman industri “keruk tanah”.

Opsi program pembangunan yang bersifat Patriarki sangat mudah diwakili oleh industri tambang, dan tak menutup kemungkinan industri bertipe eksploratif lainnya akan terus tumbuh merusak sumber-sumber kehidupan.

Baginya semua itu nyata, yang dibuktikan makin seringnya sikap memarjinalisasikan fungsi dan ekosistem alam, mengorbankan kepentingan kehidupan perempuan, serta merusak semua sumber-sumber kehidupan dan budaya.

Kemudian dari segi penggunaan ilmu pengetahuan, yang kini kian meminggirkan perempuan. Terkadang, kerap kerap kali industri menggunakan kekerasan berdasar kekuasaan terhadap alam sehingga berujung konflik sumber daya.

“Dari periode ke periode pemerintahan, watak dan pilihan pembangunan ekonomi ini tidak pernah berubah” ucap Khalid.

Khalid menekankan sebenarnya dampak buruk tak hanya terjadi terhadap lingkungan sekitar, namun dampak spesifik pun dialami oleh perempuan. Di antaranya reproduksi perempuan yang hidup di sekitar wilayah tambang batu bara terancam akibat tercemarnya sumber air dari limbah tambang.

“Kita tahu kebutuhan spesifik perempuan terhadap air lebih besar dari laki-laki. Ketika bicara soal industri tambang, urusannya direduksi seolah-olah hanya terkait dengan pembebasan lahan, kompensasi dan ganti rugi, padahal di ruang itulah perempuan banyak tidak memiliki kontrol terhadap tanahnya” tegasnya.

Bentuk pelanggaran Hak Asasi Perempuan sering kali tak terlihat ialah, ketika industri ekstraktif mengabaikan pengetahuan dan pengalaman dalam mengolah sumber daya alam. Dengan perihal ini menegasikan esensi posisi perempuan dalam sebuah sistem.

Bentuk pelanggaran hak asasi manusia lain yang dialami oleh perempuan namun sering kali tidak terlihat adalah ketika industri ekstraktif mengabaikan nilai pengetahuan dan pengalaman perempuan dalam penglolaan kekayaan alam, dan sekaligus menegasikan esensi posisi dan peran perempuan tak begitu penting dalam kemerdekaan mengelola kekayaan alam.WES

Ilustrasi

Kalimantan Utara, Siapkan Pesawat Baru Untuk Akomodasi

eRHa45—Memiliki wilayah yang cukup lebat akan vegetasi hutan, Pemerintah Kalimantan Utara demi wujudkan kesejahteraan masyarakatnya, berencana membeli beberapa unit pesawat besutan PT. Dirgantara Indonesia (PT. DI) N219 Nurtanio.

Dengan hadirnya pesawat ini nantinya, pihak pemerintah Kaltar yakin pesawat tersebut bisa menjadi moda transportasi yang cukup bermanfaat mengingat wilayahnya yang hampir 70 persen hutan yang cukup lebat. Berdasarkan laporan yang dimuat Okezone, telah mengungkapkan aktifitas Gubernur Kalimantan Utara, N Irianto Lambrie dan Wakilnya Udin Hianggio yang datang berkunjung melihat daftar purwarupa pesawat yang dimiliki PTDI, yang kemudian mereka sangat tertarik dengan jenis pesawat N219 sebagai pesawat paling cocok dengan kebutuhan yang diperlukan.

Dikatakan Irianto, dengan melakukan pembelian dengan PTDI dapat memeberikan dampak yang positif, tidak lain, langkah positif tersebut ialah guna mempercepat pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Kalimantan Utara.

“niatnya Untuk meningkatkan pelayanan pada masyarakat yang di pedalaman dan perbatasan. Selain itu, pesawat ini rencananya pun dapat digunakan untuk bantuan kesehatan”ungkap Irianto, Okeszone, Sabtu (13/1).

Ia menambahkan, jika nantinya sukses pihaknya pun mengklaim akan membeli beberapa unit lagi. Serta tak menutup kemungkinan dikemudian hari Gubernur Kalbar akan melanjutkan pembelian pesawat dari dua sampai empat pesawat.

“Kami ingin menjadikan pesawat N219 Nurtanio ini sebagai ambulans terbang, sekaligus karena ini pesawatnya bisa multifungsi, untuk penyaluran logistik dan pengangkut orang atau penumpang ke daerah-daerah terisolasi di kawasan perbatasan Kalimantan Utara,” kata Irianto.

Lebih jauh, pesawat yang nantinya akan diboyong dan dijadikan pesawat Semi Komersial, yang tidak lain akan dikelola oleh BUMD direktur utama PT. DI Elfien Soebroto, pemerintah telah memberikan apresiasi cukup dengan memberikan dukungan dan program N219 Nurtanio.

Dengan begitu, langkah pasti yang digunakan Pemerintah Kalimantan Barat membeli pesawat N219 adala hal yang tepat. Lantaran dengan itu akan memberikan dampak positif untuk pasar komersil. WES  

 

 

Kerajaan Nan Sarunai, Foto: 4.bp.blogspot

Borneo Pusat Kerajaan Tertua Di Nusantara

eRHa45—Bicara tanah Borneo, Indonesia patut mengingat kembali beberapa fakta sejarah soal Kerajaan Kutai Martadipura. Perihal ini media besar seperti Tirto melaporkan, untuk kerajaan Martadipura sebenarnya sudah ada sejak da abad ke-4 Masehi. Terlebih diprediksikan bahwa kerajaan tersebut adalah kerajaan tertua yang sudah ada di Nusantara.

Namun jauh sebelum kerajaan Martadipura, rupanya di tanah Borneo pun masih ada satu kerajaan lagi yang kini masih diberdebatkan keberadaannya. Yakni kerajaan Nan Sarunai, justru yang dinilai sebagai kerajaan paling tua di tanah Nusantara, media tersebut menerangkan bahwa Nan Sarunai sudah ada dari zaman purba atau prasejarah.

Dijelaskan dalam kerajaan Nan sarunai, ia dirikan oleh kaum Dayak Manyaan yang dianggap sebagai suku tertua di Nusantara. Ia hadir di wilayah Kalimantan Tengah dan Selatan, walau masih dalam perdebatan soal eksistensinya. Tapi yang jelas keberadaan kerajaan tersebut diperkirakan sudah bertahan sejak lama.

Petanyaannya kenapa kini kerajaan tersebut hancur, dan tak begitu tenar dari nama-nama kerajaan yang sudah tercatat saat ini. Perihal tersebut diusut oleh para ahli sejarah, hancurnya kerajaan Nan Sarunai lantaran diserang hebat oleh pasukan Majapahit dari pulau Jawa. Tepatnya dipertengahan abad ke-14 Masehi, alurnya hancurnya kerajaan membuat suku dayak Manyaan terpecah. Kemudian, para ahli menyebutkan terpecahnya suku Dayak Manyaan adalah cikal embrio untuk terbentuknya entitas masyarakat Kalimantan Selatan, cikal-bakal Kesultanan Banjar.

Jika dilacak lebih jauh, kerajaan Nan Sarunai berada di wilayah Amuntai. Wilayah sungai yang terletak di pertemuan sungai Negara, Sungai Tabalong, dan Sungai Balangan yang bemuara di Laut Jawa. Yang kini daerah tersebut berjarak sangat jauh dari pusat pemerintahan Banjarmasin, ibukota Provinsi Kalimantan Selatan sekarang.

Fakta jejak yang dapat dibuktikan ialah, ditemukannya bangunan candi kuno Amuntai yang dikenal sebagai candi Agung. Bentuk simbol kekautan eksistensi kerajaan Nan Sarunai dan  peradaban orang-orang Dayak Manyaan di masa silam.

Dalam hal ini Tirto mengutip pada penelitian Vida Pervaya Rusianti Kusmartono dan Harry Widianto, berjudul “Ekskavasi Situs Candi Agung Kabupaten North Upper Coarse, South Kalimantan”. Pada penelitian tersebut, rupanya memberikan hasil yang mengejutkan.

Masuk pada tahap pengujian sampel arang candi yang sudah ditemukan di Amuntai, menunjukan kisaran angka tahun antara 242 hingga 226 Sebelum Masehi. Jika ini benar, maka benar sudah bahwa kerajaan Nan Sarunai sebagai kerjaan tertua di Nusantara, yang sebelumnya predikat tersebut dipegang oleh kerajaan Martadipura.

Jalannya dinamika waktu pun membuat kerajaan Nan Sarunai memiliki banyak nama seperti,  Kuripan, Tabalong, hingga Tanjungpuri. Namun disinilah letak perdebatannya, banyak yang mengatakan bahwa Tajungsari bukanlah nama yang sama dari Kerajaan Nan Sarunai. Mengutip Suriansyah Ideham, dari karyanya Urang Banjar dan Kebudayaannya (2007). Untuk Tanjungsari merupakan kerajaan yang didirikan oleh orang melayu Sumatra, sebagai pelarian dari kerajaan Sriwijaya.

Baginya, dua objek kerajaan tersebut merupakan dua indentitas yang berbeda. Walau memiliki waktu dan dimensi masa hidup yang tak jauh berbeda dengan temuan Nan Sarunai tersebut dan lokasi pusat pemerintahan yang terpusat di tepi sungai Barito.WES

Ilustrasi Budaya

Saatnya Sungai Barito dan Sungai Martapura Diperhatikan Dalam Kongres Sungai III


eRHa45 – Panitia Kongres Sungai III yang dijadwalkan berlangsung 1-4 November 2017, Mohammad Ary menyebutkan dalam KSI III ini karena tuan rumah di Banjarmasin maka saatnya keberadaan Sungai Barito dan Martapura diketengahkan ke forum KSI untuk lebih diperhatikan.

Mengingat kedua sungai tersebut sangat vital bagi masyarakat Kalimantan, khususnya Kalimantan Selatan, dan keberadaanya sekarang sudah memprihatikan, baik segi sedimentasinya, pencemarannya, dan persoalan lain yang mengancam keberadaan sungai tersebut, kata Ketua 2 Bidang Acara Mohammad Ary, saat rapat pleno persiapan penyelanggaraan KSI III di Banjarmasin, Jumat.

Makanya dalam KSI ini diharapkan muncul berbagai rekomendasi atau deklarasi yang intinya bagaimana menyelamatkan sungai yang ada di wilayah ini, tambahnya.

Mengenai KSI III menurut Mohammad Ary yang juga dikenal sebagai Wakil Ketua Masyarakat Peduli Sungai (Melingai) Banjarmasin ini, silakan bagi siapa saja mengutarakan kepentingan mereka terhadap sungai dan berbagai permasalahannya.

Bagi Pemerintah Pusat dan Legislatif menyampaikan Kebijakan dan pandangan politik terhadap upaya penyelamatan dan pelestarian sumber daya air.

Bagi pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota silakan juga memaparkan kerja nyata capaian kinerja penyelamatan dan pengelolaan sungai yg tertuang dalam RPJMD dan sejumlah aksi yang sudah dan akan dilakukan

    

Bagi PTN dan PTS memaparkan hasil kajian ilmiah pakar/akademisi pembuktian kinerja TDPT dan kepeduliannya

    

Bagi LSM internasional/nasional ini wahana memaparkan hasil kajian dan pandangannya, bagi pengusaha silahkan memaparkan tanggung jawab sosial dan lingkungannya, pengalaman praktis serta kepedulian (Ambapers Tol Sungai, pertambangan, perkebunan, perkayuan, PDAM, PD-PAL, dll)

    

Kemudian bagi komunitas ini wadah berbagi pandangan dan pengalaman praktis karya baktinya.
“Ini ajang kontribusi pemikiran, penyampaian aspirasi dan partisipasi masyarakat bagi, tokoh agama, pengguna sungai (petani, nelayan, pariwisata, masyarakat pinggiran sungai, dll) .

Melihat KSI I dan II sebelumya maka pada KSI III ini maka hendaknya sudah bersifat implementatif sebagai tindaklanjut kongres sebelumnya, sarat dengan muatan pesan, serta maksud dan tujuan yang relevan dengan kondisi lingkungan dan budaya pulau-pulau besar Indonesia yaitu Kalimantan, Sumatera dan Papua yang memiliki karakteristik yang berbeda dengan DAS dan sungai-sungai di Pulau Jawa.

Karena ekosistem dan kondisi DAS-nya sangat memprihatinkan, salah satu alternatif tema KSI III, misalnya sinergi konservasi sumberdaya air untuk keberlangsungan peradaban dan kelestarian budaya sungai.
Menindaklanjuti KSI II sebelumnya yang bertema Konsolidasi kerja tata kelola sumber daya air, sungai dan kawasan, tambahnya.

Sementara tema KSI III adalah kerja bersama untuk konservasi sumber daya air sebagai beranda depan kejayaan maritim Indonesia.
Rapat tersebut dipimpin Ketua Umum Paniia KSI III, Syaipul Adhar yang dihadiri oleh panitia yang membidangi masing-masing kepanitiaan.

Sumber : Kantor Berita Antara

Ilustrasi Budaya

Pembukaan Festival Budaya Lamandau Berlangsung Meriah

eRHa45 – Pembukaan festival pariwisata, seni dan budaya yang digelar Pemerintah Kabupaten Lamandau dari tanggal 8 sampai 12 Agustus 2017 berlangsung meriah dan menyita perhatian ribuan masyarakat setempat.     

Festival tersebut dibuka langsung oleh Bupati Lamandau Marukan dan turut dihadiri Wakil Bupati, Ketua dan Wakil Ketua DPRD, Kajari, Sekda, Wakapolres Lamandau dan beserta seluruh Kepala SKPD di di lapangan Kartawana Nanga Bulik, Selasa sore.

“Kita patut bersyukur festival pariwisata seni dan budaya daerah tetap konsisten sebagai pesta rakyat. Saya sangat berharap, kedepan festival seni dan budaya daerah ini tidaklah hanya menampilkan kreatifitas seni dan budaya saja, tapi juga pertunjukan kontemporer,” kata Bupati Marukan.

Kontemporer merupakan langkah positif agar sebuah seni dan budaya tidak monoton, melainkan tetap terus tumbuh dan berkembang. Sebab, di era globalisasi sekarang ini, memelihara identitas budaya dihadapkan pada persoalan-persoalan yang rumit sehingga terkadang apa yang diinginkan dan dicita-citakan tidak sesuai dengan harapan.

Mantan dosen di Universitas Palangka Raya ini juga mengajak agar semua pihak membangun kesadara multikultural yang melampaui batas-batas identitas dari kabupaten Lamandau

“Mari kita mempersembahkan pada bangsa ini sebuah warna-warni budaya yang indah. Warna-warni yang menjembatani harmoni diantara kebudayaan dan umat manusia yang berbeda-beda” ucap Marukan.

Bupati Lamandau ini pun berharap festival pariwisata seni dan budaya daerah kabupaten Lamandau ini sebagai ajang untuk menggali dan mengembangkan bakat, prestasi dibidang senu budaya daerah, dan budaya Nasional sekaligus memberikan hiburan dan tontonan yang menarik bagi masyarakat Kabupaten Lamandau.

Pelaksanaan Tugas (Plt) Dinas Pariwisata Kabupaten Lamandau Frans Efendi yang juga Ketua Panitia pelaksana mengatakan maksud dan tujuan dari festival ini adalah, memperkenalkan berbagai ragam seni dan budaya yang ada di Kabupaten lamandau.

“Memperkenalkan kearifan lokal, sarana pembinaan generasi muda untuk melestarikan nilai budaya agar lebih kreatif lagi, sehingga dapat meningkatkan peran serta masyarakat dalam aktivitas seni budaya untuk mewujudkan aktivitas kesenian dan kebudayaan sebagai media promosi dan pemersatu bangsa,” kata Frans.

Sumber : Kantor Berita Antara