Posts

Save Orangutan, Foto:Idrus.co

Kebakaran Hutan Kembali Terjadi, Orangutan Terancam !

eRHa45—Hutan lindung kawasan Suaka Margasatwa kembali terbakar, kali ini kejadian tersebut terjadi pada kawasan Sungai Lamandau, Kabupaten Sukamara, Kalimantan Tengah (Kalteng), pada Minggu (28/1). Kejadian yang memakan waktu cukup lama, dan diperkirakan akan berdampak pada habitat lindung yang berada di kawasan tersebut.

Dikutip laporan Liputan6, sebagaimana yang sudah banyak diketahui. Suaka Margasatwa ialah tempat kawasan konservasi hutan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah, keunikan dengan memiliki ciri khas dan keanekaragaman yang beragam. Maka sudah jelas lingkungan dengan jenis seperti ini, perlu menjadi perhatian khusus bagi pemerintah, tepatnya saat ini sudah banyak peristiwa pembakaran hutan disengaja atau tidak telah mengancam kawasan hutan lindung tersebut.

Kebakaran hutan yang saat ini terjadi, ialah tempat yang begitu dekat dengan hewan yang begitu dengan dengan sejarah manusia. Tak lain hewan tersebut ialah Orangutan, yang sudah menjadi habitat awalnya berada di kawasan hutan lindung Kalimantan Tengah.

Program Manager Orangutan Foundation UK, Ade Suharso sempat mengatakan, dirinya telah melakukan posting foto dari peristiwa kebakaran yang menimpa di kawasannya tersebut. Hal ini dilakukan dengan dalih agar informasi yang dimaksud akan cepat beredar, guna mendapat perhatian orang banyak. Khususnya Pemerintah Daerah dan Polisi.

Menurutnya, hingga malam senin lalu, dirinya dan tim BKSDA Kalteng dan OF-OK masih berada ditempat lokasi kejadian guna untuk mencari penyebab dan menangani pemadaman. Ia menegaskan, lantaran lokasi dengan keterbatasan sinyal komunikasi, pihaknya masih belum bisa memberikan kabar seberapa besar kawasan hutan lindung yang terbakar, dan minimnya tenaga bantu menyulitkan mereka untuk menangani pemadaman.

“Mereka hanya enam orang dengan alat seadanya untuk memadamkan api”ucapnya.

Berdasar dugaan dengan beberapa fakta yang ditemukan, Api berasal dari pembakaran lahan oleh masyarakat yang membuka lahan untuk kebun. Baginya, faktor lain dari sulitnya melakukan pemadaman di wilayah tersebut, lantaran kecepatan angin cukup kuat pada beberapa hari ini, sehingga mengancam kawasan lainnya.

“Semoga cepat padam dan tidak meluas, karena mengancam ekosistem binatang di dalamnya,” ujar Suharso.WES

 

 

 

 

 

Gedung KPK, Foto: SindoNews

Kasus Suap RSUD Damanhuri Kalsel, Masa Tahanan Tersangka Diperpanjang

eRHa45—Kabar hangat kali ini datang dari pengumuman Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menyatakan perpanjangan penahanan tersangka kasus suap pembangunan RSUD Damanhuri Barabai, Kabupaten Hulu Tengah tahun anggaran 2017. Pepanjangan penahanan dilakukan selama 40 hari, yakni terhitung dari 25 Januari sampai 5 Maret 2018.

Perihal ini cepat dilaporkan oleh Republika pada Rabu (23/1), yang menyebutkan bahwa Kabiro Humas KPK, Febri Diansyah melalui pesan pendeknya. Pengumuman pesan perpanjangan penahanan tersebut diganjar kepada empat tersangka, yaitu DON, Direktur PT.Menara Agung Pusaka ; ALA, Bupati Kabupaten Hulu Sungai Tengah periode 2016-2021 ; FRI, Direktur Utama PT. Putra Dharma Karya dan ABS, Direktur Utama PT Sugriwa Agung.

Sehingga perlu diketahui, sebelumnya KPK telah menangkap empat orang tersangka yang tetrlibat dalam kasus suap RSUD Damanhuri Barabai, Kalimantan Selatan. Yang tak lain mereka adalah, Bupati HST Abdul Latif, Ketua Kamar Dagang Industri Kabupaten HST, Kalimantan Selatan H Fauzan Rifani, Direktur PT Sugriwa Agung, Abdul Basit; dan Direktur Urtama PT Menara Agung, Donny Witono.

Kasus yang menjerat Latif pun diduga sebagai Fee Komitmen dari manisnya proyek RSUD Damanhuri, yang kin mulai sepi dari perhatian media. Bahkan Ketua KPK Agus raharjo mengatakan, untuk kasus tersebut sangat berkaitan dengan uang pembangunan ruang perawatan kelas I, kelas II, VIP, dan super VIP.

Maka atas perbuatannya, Latif, Fauzan dan Abdul Basit disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Sementara, Donny yang menjadi tersangka pemberi suap dijerat dengan Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.WES

Ilustrasi Gajah

Menelusuri Asal-Usul Gajah Khas Asia Di Tanah Borneo

eRHa45—Saat ini siapa yang tak mengenal Gajah, spesies unik dengan kapasitas kecerdasan yang cukup tinggi. Bagi orang awam, kehadiran hewan cerdas tersebut mungkin sudah dianggap hal biasa. Namun bagi sebagian peneliti, tentu berbeda dikarenakan saat ini jumlah spesies tersebut populasi sudah tergolong kritis.

Ada satu hal yang perlu diperhatikan bersama, yakni kehadiran Gajah asli asia (Elephas maximus borneensis) yang sudah sulit ditemukan di sebagian kecil wilayah Borneo. Bagi peneliti, wilayah yang dulunya paling sering dijadikan tempat populasi mereka ialah di sekitaran Sabah Malaysia dan wilayah utara Kalimantan Timur. Kemudian, hingga saat ini masih belum diketahui asal usul Gajah kerdil khas asia ini.

Berdasar laporan Kompas, dijelaskan setidaknya ada dua teori yang bisa menjelaskan asal usul Gajah Khas asia tersebut. Pertama, berdasarkan peristiwa sejarah yang pertama kali diperkenalkan di Borneo pada 300 tahun lalu. Keyakinan tersebut pun berdasar dari sebuah catatan yang mengungkapkan bahwa pada abad ke-17, Sultan negara tetangga yang menawarkan Gajah khas tersebut dijadikan sebagai hadiah.

Sementara pada teori selanjutnya, dirujuk berdasar studi genetik yang dilakukan pada 15 tahun lalu. Yang dijelaskan bahwa Gajah spesies pada umumnya memang sudah dinyatakan berpisah dari Clan Gajah asia sejak 300.000 tahun lalu. Walau peneliti sampai saat ini masih belum bisa menemukan fosil Gajah yang dimaksud tersebut.

Untuk itu Lounès Chikhi dari Instituto Gulbenkian de Ciência, terasa tertantang untuk menyelesaikan teka-teki asal-usul Gajah khas Asia tersebut dengan berbagai cara penelitian. yakni tak lain dengan menggunakan analisis data genetik dan model komputasi canggih hanya untuk mempelajari asal usul sejarah demografi hewan ini. Baginya, sangat sulit untuk melacak lantaran minimnya catatan fosil yang bisi digunakan sebagai referensi.

“Apa yang kami lakukan adalah membuat model komputasi untuk berbagai skenario yang mungkin telah terjadi. Kemudian kami membandingkan hasil dari model ini dengan data genetik yang ada serta menggunakan teknik statistik untuk mengindentifikasi kemungkinan paling baik yang menjelaskan keragaman dari populasi gajah di Borneo,” ungkap Chikhi, Kompas (22/1).

Ia melanjutkan, bahwa cara yang paling mungkin ialah dengan skenario kolonisasi yang pernah terjadi alami di wilayah Kalimantan sekitar 11.4000-18.300 tahun lalu. Dikarenakan, dengan mendeteksi periode ini akan lebih mudah memperkirakan pada waktu tersebut permukaan laut masih rendah, sehingga Gajah masih dapat dengan mudah untuk bermigrasi dari Kepulauan Sunda hingga ke wilayah Borneo.

Maka jika ini benar, ia dapat menyimpulkan Gajah yang maskud sebenarnya sudah tiba di daratan Borneo sebelum daratan yang menghubungkan kedua pulau Borneo-Sunda menghilang. Namun apa daya jika, kelangsungan penelitian Chikhi harus kandas berhadapan dengan laporan WWF Indonesia tahun 2012, bahwa populasi gajah yang ditemukan di wilayah utara Kalimantan Timur hanya sekitar 20-180 ekor saja, hal ini yang sudah sangat menyulitkan perkembangan penelitian Chikhi.

“Distribusi geografinya yang sangat terbatas serta keragaman genetik yang berkurang bisa membahayakan masa depan populasi. Padahal memahami asal-usul serta demografi masa lalu mereka akan berguna untuk pengembangan strategi konservasi jangka panjang,” tutur Benoit Goossens, peneliti lain yang terlibat.

Alhasil, kini peneliti hanya bisa berharap ada suatu kebijakan dari negara terkait, untuk melakukan perlindungan dari jenis spesies yang hampir tergolong punah tersebut, guna menjaga kelangsungan Gajah bisa terus terpelihara.WES